
Akhirnya kesampaian juga rencana berjualan produk sendiri di tempat umum. Dengan modal patungan bersama kantor, kami menyewa sebuah stand murah di sebuah acara bazaar di kawasan Taman Ismail Marzuki tanggal 28 Maret yang lalu. Kedengarannya seperti KKN ya? bermitra bisnis dengan kantor sendiri. Tapi jangan khawatir, semua transaksi tercatat dengan benar dan baik dan terlaporkan dengan cepat, transparan serta disertai bukti yang syah. Jadi bermitra dengan lembaga tempat kita bekerja malah sama-sama menguntungkan kedua belah pihak asal jelas pencatatannya. Semua biaya jadi bisa lebih ditekan karena dibayar bersama.
Aku benar-benar merasa senang dengan eksperimen ini. Bukan hanya karena cita-cita berjualan mulai terwujud dengan jumlah penjualan lumayan saja, tapi ada banyak pengalaman berharga lain yang aku dapat. Dalam beberapa jam saja belasan kaosku sudah laku terjual. Senang sekaligus bingung karena kadang keteteran melayani pengunjung. Apalagi kalau sedang dikeroyok banyak pembeli sekaligus yang mereka serempak menanyakan banyak hal yang berbeda-beda. Belum lagi kalau minta dicarikan ukuran yang sesuai dengannya. Tidak jarang aku harus bongkar semua lipatan dan kemasan plastiknya. aktifitas bongkar-bongkar dan merapikannya kembali ternyata sudah inheren dalam kegiatan berdagang. Tapi kalau banyak yang laku, capeknya ilang seketika.
Dari pengalaman berjualan kemarin, ada hal-hal yang lucu sekaligus menjadi pengalaman berharga untukku berikutnya. Kebetulan bazar ini bebarengan dengan acara diskusi dan pentas seni yang banyak dihadiri perempuan dan keluarganya. Tempat itu ramai dipenuhi oleh anak-anak. Tiba-tiba sreeet ….. seorang anak kecil yang tangannya masih belepotan karena habis makan siomai membelai kaos putih yang ku-display paling depan. Hmmm …. kesel tapi juga tidak bisa marah karena ia anak kecil yang tidak aku diketahui dimana orang tuannya. Rasanya tempat ini juga memang cocok untuk berlatih bersabar he.he…
Pengalaman aneh lainnya datang saat serombongan perempuan datang melihat-lihat produkku. Dari penampilannya ia kelihatan orang yang banyak uang. Ia minta dikasih lihat beberapa barang. Bahkan aku telah merelakan dua buah kaos polosku untuk ia cobai sebelum ia memastikan akan membeli yang mana. Akhirnya ia pilih sebuah kaos dan minta disimpankan dahulu. Di akhir acara ia akan mengambil dan membayarnya. Dengan semangat aku simpan dengan rapi titipannya. Sampai di akhir acara, perempuan itu tak segera datang mengambil titipannya. Akhirnya aku samperi dia untuk memastikan apakah ia jadi membelinya. Ia bergaya sok lupa dengan pesenannya kalau tidak aku ingatkan. Terakhir-terakhir ia berbisik di telingaku,
” Sori, sebenarnya aku beli untuk saudaraku. Ia ingin ukuran yang tidak ada disini.”
” Oh? … jadi ? Tanyaku masih dengan pikiran polos.
” Jadi belinya lain kali saja.” Ia masih sempat meminta kartu nama padaku dengan alasan siapa tahu nanti akan pesan.
Hmmm …. tampaknya penampilan bonafit dan sering memperlihatkan keseriusannya membeli di awal bukan jaminan ia pembeli yang serius. Kenapa aku tidak kritis diawal. Kalau ia serius membeli, pasti ia akan bayar langsung diawal meskipun titip. Sayangnya model pengunjung demikian tidak hanya satu. Seorang ibu lainnya bahkan kelihatan berminat dan tidak sayang kehilangan uangnya. Ia terlihat bernafsu sekali ingin memborong beberapa kaos ukuran L dengan gaya titip nanti akan ia ambil. Ternyata ia tidak pernah nongol lagi untuk mengambil barangnya. Padahal beberapa pengunjung lain yang meminta kaos dengan tema dan ukuran yang sama aku tolak demi memenuhi komitmenku untuk menyimpankan pesanan mereka.
Jadi teman-teman, jika kalian sedang menjaga stand dan menjumpai pengunjung dengan gaya demikian lebih baik pastikan bahwa ia akan bayar saat itu juga meskipun titip, atau kalian akan lepas pada pembeli lainnya yang berminat. Tidak ada jaminan ia akan datang memenuhi janji manisnya. Pengalaman ini sesuatu yang baru dan membuatku lebih tahu berbagai macam karakter pengunjung stand kita.
Tentu pembelajaran lebih berharga ketimbang rupiah yang mengalir ke kantong kita. Misalnya saat aku bertemu dengan seorang bapak yang membeli dua kaos untuk puteranya. Ia menyukai tema kaosku dan menyarankan memilih warna-warna yang tidak mudah terlihat kotor seperti abu-abu. Anak-anak suka sekali bermain dan bajunya menjadi cepat kotor. Jadi pilihan warna memiliki fungsi tertentu.
Sebenarnya banyak lagi yang bisa aku peroleh dari pengalaman berjualan kemarin. Yang jelas sekarang aku tidak ragu-ragu lagi membuat banyak kaos untuk stock berdagang. Dari pengalaman kemarin, banyak permintaan yang tidak bisa aku penuhi karena barangnya sudah terjual. Kebetulan aku membatasi jumlah kaos yang aku buat untuk setiap tema. Satu tema aku buat untuk 3 kaos dewasa dan 3 kaos untuk anak-anak dengan ukuran masing-masing small, medium dan large. Ternyata banyak orang yang menyukai tema-tema yang sama. Berikutnya aku akan membuat lebih banyak jumlah kaos untuk setiap tema.
-6.192950
106.837248